Kamis, 28 Mei 2015

SEORANG PASIEN YANG MERENUNGI KASIH SAYANG ALLAH

Di sebuah negeri Arab, ada seorang yang sudah sepuh, usianya sudah menginjak 80 tahun. Umumnya orang-orang yang sudah berumur, banyak penyakit yang datang silih berganti, tidak terkecuali sang kakek ini. Sang kakek mengidap penyakit kanker prostat yang cukup parah.
Pada suatu hari ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan air urinnya. Anak-anaknya pun membawanya ke rumah sakit agar segera ditangani oleh dokter. Kakek tua ini langsung diperiksa oleh dokter dan diupayakan agar masalahnya bisa teratasi. Alhamdulillah, para dokter bisa mengatasi masalahnya, ia bisa mengelurkan urinnya dan berkuranglah rasa sakitnya. Anak-anaknya menemui dokter yang mengobati ayah mereka, mereka mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan para dokter ini.
Setelah itu, anak-anak kakek ini kembali menemui ayah mereka untuk menghibur dan menenangkan hatinya. Namun ternyata mereka melihat ayah mereka sedang tenggelam dalam deraian air mata. Lalu mereka mengatakan, “Wahai ayah, rasa sakit yang engkau rasakan telah hilang, mengapa ayah menangis?”
Kakek tua ini menenangkan diri dari tangisnya, lalu ia menjawab, “Dokter itu hanya menolongku dalam satu kali kesempatan ini saja, tapi kita benar-benar merasakan kebaikannya, dan kita benar-benar sangat berterima kasih kepadanya. Aku teringat Allah Ta’ala, yang selama 80 tahun ini aku benar-benar dibuai dengan kenikmatan yang Dia berikan kepadaku. Dengan kedermawanan dan kebaikan-kebaikan-Nya, sampai-sampai perkara yang tidak aku minta pun Dia berikan untukku, namun betapa kurang rasa syukurku kepada-Nya.”
Ibnu Qayyim mengatakan, “Jika Allah menyingkapkan kepada hamba-Nya sebuah tabir, dan menunjukkan kepada mereka bagaimana Allah mengatur urusan mereka, betapa Allah sangat menginginkan kebaikan untuk hamba-hamba-Nya lebih dari hamba tersebut menginginkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya lebih dari kasih sayang ibu-ibu mereka, pasti hati mereka akan leleh karena mencintai Allah dan pasti hati mereka akan tersayat-sayat karena berterima kasih kepada Allah.”
Demikianlah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dalam kandungan ibu kita hingga di usia kita saat ini. Banyak kenikmatan yang Allah berikan, bahkan terkadang kita tidak memintanya, dan kita tidak tahu akan mendapatkannya, namun Allah berikan kepada kita lalu kita bahagia dengan kenikmatan yang tidak disangka-sangka itu.
Sampai Imam Ibnu Qayyim menggambarkan jika saja kita benar-benar menyadari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita niscaya kita akan sangat mencintainya dan ketika kita benar-benar menyadari nikmat-Nya, hati kita akan tersayat-sayat betapa kita selama ini tidak berterima kasih kepada-Nya.

Sumber: WaZkr


Jangan Menganggap Remeh

Di antara jenis akhlak yang mulia adalah rendah hati, menganggap dirinya manusia biasa dan senantiasa berkata "Dia lebih baik dari diriku" ketika bertemu dengan orang lain.

Orang-orang ini sadar, bahwa Allah Ta'alla tidak memuliakan hamba-Nya berdasarkan penampilan fisik. Mereka mengerti dan memahami, ada banyak orang yang tidak dikenal di bumi, tapi namanya harum dalam majlis malaikat di langit. Namanya senantiasa disebut-sebut dalam majlis itu, sebab iman dan taqwanya.


Pernah suatu hari kaum muslimin terjebak dalam perang yang sengit. Mereka berada dalam suasana genting sebab dikepung musuh. Tak berdaya, bingung, dan hampir saja menyerah. Namun, Alah Ta'ala menerunkan ilham ingatan kepada salah satu mujahidin dalam perang tersebut. Ia mengingat bahwa Nabi Saw pernah mengatakan satu nama yang jika ia berdo'a, maka do'anya pasti dikabulkan.


Maka ia pun mencari sahabat tersebut untuk memintanya memanjatkan doa kepada Allah Ta'ala. Di antara lafal doa itu, sahabat ini berkata, "Aku minta bahu-bahu mereka". Lantas, apa yang terjadi?
Terang Abdullah Azzam dalam "Tarbiyah Jihadiyah", "Belum sampai tangannya turun ke bumi, musuh mereka telah mengalami kekalahan". Inilah sahabat yang mulia. Sahabat yang namanya harum di sebut-sebut dalam majlis para malaikat.
 Inlah sahabat yang disebutkan dalam salah satu sabda Rasulullah SAW, "Berapa banyak orang kusut rambutnya, berdebu wajahnya, berpakaian dua kain usang, serta tidak dihiraukan manusia." Akan tetapi, lanjut Nabi, "Kalau dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Dia akan mengabulkan sumpahnya itu."
Pungkas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana termaktub dalam "Shahih al-Jami' as-Shaghir", " Di antara mereka adalah Bara' bin Malik".

Abdullah bin Azzam menjelaskan, "Mereka inilah orang yang tertolak dari semua pintu rumah karena rendah statusnya dalam pandangan orang."Padahal, lanjut ulama 'lulusan doktoral Universitas al-Azhar Kairo ini, "Orang-orang semisal itulah yang menyelamatkan manusia dari kehancuran dan menjaga mereka dari malapetaka dan siksa Ilahi".

Hendaknya riwayat ini menjadi pelajaran berharga bagi kaum muslimin. Bahwa kemuliaan bukan terletak pada harta, rupa ataupun jabatan. Kemuliaan adanya dalam hati sebab kualitas iman dan taqwa seseorang. Karenanya, semoga Allah Ta'ala Karuniakan sifat rendah hati kepada kita semua, agar tidak memandang remeh kepada siapa pun, apalagi mengolok-oloknya. Sebab, ia yang diremehkan atau diolok-olok bisa jadi lebih mulia dari kita.

Putra Putri Rasulullah SAW

Pembicaraan tentang putra dan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak heran, sebagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau siapa saja nama anak-anaknya.
Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,
قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ
“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR Ahmad no.24864)
Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiyah.
Anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat saat berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga ath-Thayyib atau ath-Tahir karena lahir setelah kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat saat berusia 17 atau 18 bulan.
Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.
Rinciannya adalah sebagai berikut:
Putri-putri Rasulullah
Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.
Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.
Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami.
Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah.
Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.
Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.
Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affanradhiallahu ‘anhu. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah.
Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.
Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah  bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar.
Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.
Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsumradhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya.
Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.
Keempat, Fatimah binti Rasulullah.
Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.
Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,
فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخاري
“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)
Beliau juga bersabda,
أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد
“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri Firaun.” (HR. Ahmad).
Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.
Putra-putra Rasulullah
Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun.
Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.
Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.
Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,
“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري
“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari).
Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.
Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya..

Sumber: Islamweb.net
oleh : Nurfitri Hadi / Herytaryana.blogspot.com

Materi Pengajian

Masalah itu bermacam-macam dan bertumpuk-tumpuk, suka atau tidak suka tetap harus kita jalani, maka jadikanlah Al-quran sebagai pedomanmu.
QS : 41 ayat 51-54
Jaminan yang Allah berikan apabila kita memohon ampunan pada-Nya.
QS : 71 ayat 10-13
Jaminan bagi orang yang berhijrah di jalan Allah.
QS : 4 ayat 100
221212
QS : 4 ayat 59, 2 ayat 2
Bagaimana kita bisa menyikapi atau manjalankan kehidupan kita berdasar pedoman kita yaitu Al-quran dan As-sunnah.
QS : 80 ayat 18-22
Allah berfirman, dimana manusia
bermula dari cairan yang hina dan keluar dari barang yang memalukan pula, dan ada juga yang menyebutkan kita itu tercipta dari tanah yang kering yang tak berharga sama sekali, itu mempunyai arti bahwa kita sungguh makhluk yang sangat rendah.
Allah menciptakan kita itu sedemikian rupa dengan menentukan takdir yang akan kita jalani, akan tetapi bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa karena adanya takdir, maka dari itu Allah mengkaruniai Al-quran keda kita untuk pedoman kita berikhtiar, karena Allah tidak akan merubah nasibmu apabila kamu tidak berikhtiar.
QS : 2 ayat 156
Maka dari itu janganlah sekali-sekali kita merasa paling berkuasa dan merasa memiliki segalanya, karena dalam kalimat "innnalilahi wainnalilahi rojiun" segala sesuatunya itu milik Allah dan akan kembali pada Allah.
QS : 56 ayat 7
Pada BAB sedekah, kita dianjurkan bersedekah dengan dimulai niat karena Allah, karena diterima tidaknya segala amal ibadah kita itu bergantung pada niatnya. Dan juga terkadang kita menyedekahi harta kita bukan dengan harta yang kita cintai, padahal dalam QS : 3 ayat 92, Allah menganjurkan bersedekahlah dengan harta yang kamu cintai, karena balasannya pun akan lebih besar lagi. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim.
Dan apabila kita ingin mengenali Allah, terlebih dahulu kita harus bisa mengenali diri kita sendiri dulu,
Karena terkadang saat kita berdoa kepada Allah, kita tidak sadar apa yang kita utarakan kepada Allah itu seperti kita menyuruh Allah, mendikte Allah, dan mengatur Allah, maka dari itu dengan kita mengenali diri kita sendiri kita akan mengerti apa yang kita butuhkan dan apa yang memang terbaik untuk kita. Ucapan saidina ali..
QS : 71 ayat 10-12, surat tersebut menjelaskan, mohonlah ampun kepada Allah (istiqomah), niscaya Allah akan memperbanyak harta dan kenikmatan lainnya.

Kamis, 13 Desember 2012

Materi Pengajian Bulanan 2/12/12

Surat 20 ayat 124-127

waman a'radha 'an dzikrii fa-inna lahu ma'iisyatan dhankaan wanahsyuruhu yawma alqiyaamati a'maan

[20:124] Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
 
 
qaala rabbi lima hasyartanii a'maa waqad kuntu bashiiraan

[20:125] Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
 
 
qaala kadzaalika atatka aayaatunaa fanasiitahaa wakadzaalika alyawma tunsaa

[20:126] Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".
 
 
wakadzaalika najzii man asrafa walam yu/min bi-aayaati rabbihi wala'adzaabu al-aakhirati asyaddu wa-abqaa

[20:127] Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
 

Jadikanlah al-quran dan as-sunnah itu petunjuk.

Cara agar menanggapi ujian yang bertubi-tubi ;
Berhentilah memikirkan masalah duniawi dengan terlalu berlarut. Dan pasrahkan saja kepada Allah swt. Kita tinggal berusaha dan berdoa, yakinkan bahwa masalah datangnya dari Allah dan jalan keluar atau pertolongan pun datangnya hanya dari Allah. Dan dalam berdoa pun harus berhati-hati. Apalagi berdoa untuk mendapatkan surga, karena besar konsekuensinya.

(Surat 2 ayat 214)

am hasibtum an tadkhuluu aljannata walammaa ya/tikum matsalu alladziina khalaw min qablikum massat-humu alba/saau waaldhdharraau wazulziluu hattaa yaquula alrrasuulu waalladziina aamanuu ma'ahu mataa nashru allaahi alaa inna nashra allaahi qariibun

[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Maksudnya, bukan kita tidak boleh sama sekali mengharapkan surga, akan tetapi sesungguhnya imbalan-imbalan yang akan kita dapatkan hanya Allah yang tahu. Yang terpenting kita hanya melakukan yang terbaik dan memohon yang terbaik untuk kita, karena Allah maha melihat dan maha mengetahui.
Sebagai contoh kehidupan Nabi Muhammad SAW (ahli surga), dimana Ia di uji oleh Allah sebegitu berat melebihi dari manusia biasa, maka dari itu, jika kita meminta imbalan yang besar, besar pula konsekuensi yang akan kita hadapi. Disinilah tantangan yang akan kita hadapi dimana iman dan kesabaran kita di uji untuk menjalani kehidupan di dunia yang penuh ujian dari Allah. Sesungguhnya semua itu demi kebaikan kita semua.

Surat 28 ayat 56
innaka laa tahdii man ahbabta walaakinna allaaha yahdii man yasyaau wahuwa a'lamu bialmuhtadiina

[28:56] Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
 

Yang memberi pentunjuk hanya Allah SWT, tugas kita hanyalah menyampaikan (syi'ar) saja.

Surat 16 ayat 125
ud'u ilaa sabiili rabbika bialhikmati waalmaw'izhati alhasanati wajaadilhum biallatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wahuwa a'lamu bialmuhtadiina

[16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah845 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

2 ayat ini adalah panduan dalam mengajar/ syi'ar.

Selasa, 27 November 2012

Materi Pengajian Mingguan 24 Nov 2012 (Kesombongan)

Al-Araf, ayat 146-147

sa-ashrifu 'an aayaatiya alladziina yatakabbaruuna fii al-ardhi bighayri alhaqqi wa-in yaraw kulla aayatin laa yu/minuu bihaa wa-in yaraw sabiila alrrusydi laa yattakhidzuuhu sabiilan wa-in yaraw sabiila alghayyi yattakhidzuuhu sabiilan dzaalika bi-annahum kadzdzabuu bi-aayaatinaa wakaanuu 'anhaa ghaafiliina

[7:146] Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)569, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.
 
 
waalladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa waliqaa-i al-aakhirati habithat a'maaluhum hal yujzawna illaa maa kaanuu ya'maluuna

[7:147] Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.
     



Allah akan mempalingkan diriNya kepada setiap orang yang sombong, merasa lebih benar dari kekuasaan atau kebenaran Allah.

Ada 7 penyebab orang bisa sombong :

1. Pengetahuan yang ia miliki, berhati2lah kepada ilmu yang kita dalami. Terkadang ilmu itu bisa menyesatkan kita sendiri.

2. Amal ibadah / amal kebaikan, merasa seakan-akan kita punya amal ibadah yang lebih dari orang lain.

3. Silsilah / Nasab (keturunan) Contohnya keturunan raden darah biru dll

4. Harta, dengan harta apapun bisa dibeli maka dari itu rentan sekali sombong

5. Kecantikan dan ketampanan

6. Kekuatan tubuh / ketangkasan

7. Dengan banyaknya pengikut atau anak buah..

 Bagaimana penanggulangan dari ke 7 penyebab kesombongan :

1. Keilmuan, bagi orang-orang yang merasa memiliki ilmu yang lebih. Kita seharusnya memiliki tagung jawab terhadap ilmu yang kita punya / mengamalkannya, harus selalu takut terhadap siksaan Allah. Agar tidak merasa lebih dari yang lain. jangan merasa cukup dan bangga atas apa yang sudah ada.

2. Di dunia ini pasti ada yang di atas kita dan dibawah kita. Solusinya agar tidak muncul sikap sombong itu adalah menanamkan sikap maju terus dan tidak melihat yang lain atau yang dibawahnya.

3. Silsilah, karena asal dari semua manusia itu sama, atau yang dijelaskan didalam surat 80 ayat 18-23

 
 
min ayyi syay-in khalaqahu

[80:18] Dari apakah Allah menciptakannya?
 
 
min nuthfatin khalaqahu faqaddarahu

[80:19] Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya1558.
 
 
tsumma alssabiila yassarahu

[80:20] Kemudian Dia memudahkan jalannya1559
 
 
tsumma amaatahu fa-aqbarahu

[80:21] kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
 
 
tsumma idzaa syaa-a ansyarahu

[80:22] kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
 
 
kallaa lammaa yaqdhi maa amarahu

[80:23] Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
 

4. Masalah cantik dan tampan. Hal seperti ini sifatnya hanya sementara pada saat umur sudah menua maka kita sudah tidak cantik dan tampan lagi maka dari itu kita harus berhati-hati apabila kita menyombongkan apa yang ada di diri kita karena semua itu semata-mata hanya titipan sekaligus ujian bagi kita agar tidak menyombongi hal tsb.

5. Sombong karena ketahanan tubuh, sesungguhnya kita semua sangat lemah dihadapan Allah SWT. Maka  jangan sekali-kali menyombongkan diri atas itu. Dan apabila diberi sakit maka kita akan lemah.

6. Harta.. Tidak sedikit orang yang banyak harta tiba-tiba jatuh miskin. Dari kejadian tersebut jangan sampai lah kita memuja-muja harta kita, karena apa bila Allah sudah bekehendak kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan harta yang kita miliki.

7. Dengan adanya banyak pengikut maka rawan sekali kesombongan itu timbul.. Karena ia merasa paling nomer satu di antara yang lain. Maka dari itu sikap rendah diri itu penting.

Sabtu, 17 November 2012

Materi Pengajian Bulanan (4 Nov 2012)

An-nahl 53-56

wamaa bikum min ni'matin famina allaahi tsumma idzaa massakumu aldhdhurru fa-ilayhi taj-aruuna

[16:53] Dan apa saja ni'mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.
 
 
tsumma idzaa kasyafa aldhdhurra 'ankum idzaa fariiqun minkum birabbihim yusyrikuuna

[16:54] Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain),
 
 
liyakfuruu bimaa aataynaahum fatamatta'uu fasawfa ta'lamuuna

[16:55] Biarlah mereka mengingkari ni'mat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).
 
 
wayaj'aluuna limaa laa ya'lamuuna nashiiban mimmaa razaqnaahum taallaahi latus-alunna 'ammaa kuntum taftaruuna

[16:56] Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang mereka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan.
 
Segala perbuatan yang positif mau pun negatif pasti membuahkan hasil yang sesuai dengan apa yang dilakukan. Sesunguhnya hasil tersebut datangnya semata-mata dari Allah. Dan begitu pula kita merasakan hasilnya agar kita dapat mengerti apa yang kita lakukan begitu juga manfaatnya.

Surat 33 ayat 56,
 
inna allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna 'alaa alnnabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu 'alayhi wasallimuu tasliimaan

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
 

Bersalawatlah dan Salam untuk Nabi. Terkadang orang yang selalu beribadah rajin tetapi tetap saja mendapatkan masalah atau doanya tidak terkabul-kabul alias doa yang mengantung. Ini lah fungsi dari shalawat. Agar ibadah kita atau doa-doa kita dapat dikabulkan dan ibadah lebih sempurna dan mendapat restu dari Allah. Karena Allah sangat senang dengan orang yang suka bershalawat dan berdzikir.

Syarat pada saat bershalawat / berkomukasi dengan Rosul.. Surat 58 ayat 12-13
 
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu idzaa naajaytumu alrrasuula faqaddimuu bayna yaday najwaakum shadaqatan dzaalika khayrun lakum wa-athharu fa-in lam tajiduu fa-inna allaaha ghafuurun rahiimun

[58:12] Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 
 
a-asyfaqtum an tuqaddimuu bayna yaday najwaakum shadaqaatin fa-idz lam taf'aluu wataaba allaahu 'alaykum fa-aqiimuu alshshalaata waaatuu alzzakaata wa-athii'uu allaaha warasuulahu waallaahu khabiirun bimaa ta'maluuna

[58:13] Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Surat 65 ayat 7 (Sedekah)

 
liyunfiq dzuu sa'atin min sa'atihi waman qudira 'alayhi rizquhu falyunfiq mimmaa aataahu allaahu laa yukallifu allaahu nafsan illaa maa aataahaa sayaj'alu allaahu ba'da 'usrin yusraan

[65:7] Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Aturan main bershalawat surat 49 ayat 2-3 , yaitu bershalawatlah dengan lemah lembut.
 
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tarfa'uu ashwaatakum fawqa shawti alnnabiyyi walaa tajharuu lahu bialqawli kajahri ba'dhikum liba'dhin an tahbatha a'maalukum wa-antum laa tasy'uruuna

[49:2] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu1409, sedangkan kamu tidak menyadari.
 
 
inna alladziina yaghudhdhuuna ashwaatahum 'inda rasuuli allaahi ulaa-ika alladziina imtahana allaahu quluubahum lilttaqwaa lahum maghfiratun wa-ajrun 'azhiimun

[49:3] Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Diskusi via Facebook yuk !!